Published: 6 October 2026 - 07:00 WIB - Views: 0 views
[unsoed.ac.id, Sel, 6/10/26] Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menghadirkan Dr. Fahruddin Faiz dalam kuliah umum bertema “Seni Menata Hati: Menghadapi Overthinking dan Kecemasan Masa Depan”, Selasa (6/10/2026). Kegiatan yang digelar di Masjid Kampus Nurul Ulum Unsoed tersebut diikuti mahasiswa Unsoed dan masyarakat umum.
Kegiatan yang diselenggarakan Takmir Masjid Kampus Nurul Ulum ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus refleksi bagi peserta untuk memahami dan mengelola kecemasan, khususnya dalam menghadapi ketidakpastian masa depan.
Plt Rektor Unsoed Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si. mengatakan tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini. Menurutnya, mahasiswa menghadapi berbagai tantangan di tengah pola hidup yang cenderung materialistis, hedonistis, serba instan, serta ketidakpastian mengenai masa depan.
“Tema menata hati ini sangat tepat karena mahasiswa saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk materialisme, hedonisme, kehidupan yang serba instan, dan ketidakpastian masa depan. Karena itu, kemampuan menata hati menjadi sesuatu yang penting,” ujar Prof. Ali.
Ia juga menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Fahruddin Faiz di Unsoed. “Saya sangat bergembira karena salah satu idola saya hadir pada pagi hari ini. Terus terang, saya salah satu jamaah YouTube yang selalu mengikuti konten-konten beliau,” katanya.
Dalam pemaparannya, Dr. Fahruddin Faiz yang merupakan pegiat media sosial sekaligus Dosen Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengajak peserta memahami bahwa rasa khawatir terhadap masa depan merupakan hal yang wajar. Namun, kecemasan perlu dikelola agar tidak berkembang menjadi kekhawatiran berlebihan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, salah satu kunci menghadapi kecemasan adalah membangun rasa syukur. Banyak orang, katanya, justru terbiasa mencari alasan untuk merasa susah dan lupa melihat berbagai hal kecil yang sebenarnya patut disyukuri.
Fahruddin juga menjelaskan empat sikap anak muda dalam menghadapi masa depan, yakni apatis, obsesif, fatalis, dan responsif. Sikap responsif dinilai paling ideal karena seseorang menyadari adanya ketidakpastian, tetapi tetap meresponsnya dengan ikhtiar terbaik sejak saat ini.
“Yang penting bukan memastikan masa depan seperti apa, tetapi bagaimana kita merespons ketidakpastian itu dengan sebaik-baiknya. Masa depan memang belum pasti, tetapi hari ini kita masih bisa memilih apa yang akan kita lakukan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan peserta untuk mengenali tanda-tanda overthinking berlebihan, seperti kegelisahan yang berulang, kelelahan fisik dan batin, mudah merasa terganggu oleh orang lain, hingga kehilangan rasa senang terhadap aktivitas yang sebelumnya dinikmati.
Dalam perspektif Ibnu Sina, Fahruddin menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan lima dimensi diri, yakni jasad, akal, hati, nafsu, dan ruh. Akal perlu diisi dengan pengetahuan yang bermanfaat sekaligus disaring dari informasi negatif, sementara hati perlu dibersihkan dari kesombongan, riya, dengki, dan kebencian.
Menurutnya, ketenangan jiwa juga berkaitan dengan kedekatan kepada Allah SWT. Karena itu, menata hati bukan sekadar mengelola pikiran, tetapi juga membangun hubungan spiritual yang sehat. Kuliah umum berlangsung interaktif, dan diakhiri dengan sesi diskusi bersama peserta.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak
