Publish: 2 September 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Rab, 2/9/26] Dua dosen Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Mukti Trenggono dan Riyanti, berpartisipasi dalam Blue Miracles of Maritime Cooperation: China–Indonesia Friendship Stories Exchange Event yang berlangsung di Shenzhen, Tiongkok. Kegiatan tersebut menjadi forum pertukaran pengalaman dan gagasan antara akademisi, peneliti, serta praktisi Indonesia dan Tiongkok dalam bidang kelautan, perubahan iklim, konservasi ekosistem, perikanan, dan penguatan peran masyarakat.
Kegiatan dibuka oleh Yin-Jie, Deputy Editor in Chief of China International Publishing Center. Selain UNSOED, forum tersebut turut dihadiri perwakilan First Institute of Oceanography (FIO) China, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), China Oilfield Services Limited, Marine Stewardship Council, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Ocean University of China.
Dalam sesi Addressing Climate Challenges through Marine Exploration and Research, Mukti Trenggono menyampaikan materi bertajuk We Carry the Ocean Together. Ia menekankan pentingnya observasi laut lintas negara dalam memahami keterkaitan antara kondisi perairan Indonesia dengan sistem iklim regional dan global. Menurut Mukti, fenomena monsun, Indonesian Throughflow, upwelling, serta distribusi panas laut menunjukkan keterhubungan yang kuat antara kondisi laut Indonesia dan dinamika iklim yang lebih luas. “We carry the ocean together. Karena laut tidak mengenal batas negara, maka observasi, pemahaman, dan pengelolaan laut juga membutuhkan kolaborasi lintas negara,” ujar Mukti.
Dalam paparannya, Mukti juga mengulas perjalanan kolaborasi observasi laut Indonesia–Tiongkok yang telah dilakukan melalui ekspedisi bersama, pemasangan mooring, pengolahan data, lokakarya, hingga pelatihan bagi peneliti muda.
Ia menawarkan tiga arah penguatan kerja sama FIO–UNSOED melalui pendekatan Observe, Understand, dan Act. Observe diarahkan pada keberlanjutan observasi laut, Understand melalui integrasi data lapangan dengan data satelit dan model, sedangkan Act mendorong penerjemahan hasil riset menjadi sistem peringatan dini, penguatan ketahanan perikanan, pendidikan, serta pengembangan kapasitas peneliti muda.
Sementara itu, Riyanti menyampaikan materi bertajuk Mangroves Reborn — A Green Coastal Cooperation Story dalam sesi Marine Ecology and Environmental Governance. Ia memaparkan pengalaman konservasi dan restorasi mangrove di Cilacap, sekaligus menekankan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
“Restorasi mangrove bukan hanya tentang menanam, tetapi juga memastikan bibit dapat bertahan hidup melalui pemilihan lokasi dan spesies yang tepat, monitoring yang berkelanjutan, serta keterlibatan masyarakat.” jelas Riyanti.
Riyanti juga memaparkan kolaborasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNSOED dengan First Institute of Oceanography (FIO), China, dalam kegiatan konservasi mangrove di Cilacap. Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat dan siswa sekolah sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran dan partisipasi dalam menjaga ekosistem pesisir.
Menurut Riyanti, keberlanjutan konservasi membutuhkan keterpaduan antara ilmu pengetahuan, pengetahuan lokal, dukungan dunia usaha, pendidikan lingkungan, serta penguatan mata pencaharian masyarakat pesisir.
“Konservasi yang berkelanjutan perlu memadukan ilmu pengetahuan dan pengetahuan lokal, sekaligus melibatkan masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.” ungkapnya.
Forum Blue Miracles of Maritime Cooperation membahas enam tema utama kerja sama maritim, yakni eksplorasi dan riset kelautan, pengembangan sumber daya, ekologi dan tata kelola lingkungan, perikanan, pendidikan kelautan, serta kolaborasi masyarakat akar rumput.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan ke Jinlong Community dan CITIC Tower serta diskusi mengenai arah dan masa depan kerja sama kelautan antara Indonesia dan Tiongkok.
Keterlibatan dua dosen Unsoed dalam forum tersebut menjadi bagian dari kontribusi Unsoed dalam memperluas jejaring akademik dan kerja sama internasional di bidang kelautan. Melalui penguatan kolaborasi riset, konservasi, dan pengembangan kapasitas, Unsoed turut mendorong agar pengetahuan dan inovasi kelautan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta keberlanjutan lingkungan pesisir.




