Publish: 24 Juli 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Jum, 24/7/2026] Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKes) menjadi tuan rumah Biennial Scientific Meeting (BSM) Indonesian Health Economics Association (InaHEA) 2026 yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026. Kegiatan diselenggarakan pada Jumat (24/7/2026) di Lab Terpadu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed dengan mengangkat berbagai isu strategis mengenai penguatan ekonomi kesehatan sebagai fondasi transformasi sistem kesehatan Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga, Direktur RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Direktur RSUD Banyumas, Direktur RSUD Ajibarang, BPJS Kesehatan KCP Purwokerto, Rektor Unsoed beserta jajaran Wakil Rektor, para dekan dan wakil dekan, ketua jurusan di lingkungan FIKes, serta sekitar 150 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Dalam sambutannya, Dekan FIKes Unsoed, Prof. Dr.sc.hum. Budi Aji, S.K.M., M.Sc., menegaskan bahwa penyelenggaraan Biennial Scientific Meeting InaHEA 2026 merupakan bagian dari komitmen FIKes Unsoed untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Melalui Biennial Scientific Meeting InaHEA 2026 ini, FIKes Unsoed berupaya menghadirkan ilmu kesehatan yang berdampak, baik di tingkat lokal maupun nasional. Forum ini menjadi ruang kolaborasi bagi sekitar 150 peserta dari berbagai perguruan tinggi untuk berbagi pengetahuan, menghasilkan inovasi, sekaligus memperkuat kontribusi ekonomi kesehatan dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan memberikan multiplier effect bagi perekonomian daerah," ujar Prof. Budi Aji.
Ketua Indonesian Health Economics Association (InaHEA), Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH., DrPH, menyampaikan bahwa penguatan sistem kesehatan memerlukan sinergi berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, hingga fasilitas pelayanan kesehatan.
"Pelayanan kesehatan yang baik harus didukung oleh pendidikan yang kuat. Perguruan tinggi, pemerintah, dan penyedia layanan kesehatan harus duduk bersama membangun sistem kesehatan yang semakin kuat, pelayanannya semakin baik, dan ekonominya semakin kokoh. Ekonomi kesehatan memiliki hubungan timbal balik dengan pelayanan kesehatan sehingga dari sinilah berbagai inovasi dapat terus dikembangkan," katanya.
Sementara itu, Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq, M.Sc.Agr., IPU., ASEAN Eng., menekankan bahwa ekonomi kesehatan memiliki peran yang semakin penting dalam mendukung pembangunan nasional.
"Ekonomi kesehatan memiliki implikasi yang sangat luas bagi pembangunan. Transformasi di bidang kesehatan, khususnya ekonomi kesehatan, merupakan kebutuhan yang mendesak. Saya berharap forum ini mampu memperkuat kolaborasi lintas perguruan tinggi dan para pemangku kepentingan sehingga lahir kebijakan-kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat," ujar Rektor.
Pada sesi keynote, Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Prof. Asnawi Abdullah, Ph.D., memaparkan transformasi sistem kesehatan Indonesia melalui integrasi digital dan penguatan pelayanan kesehatan primer sebagai fondasi menuju sistem kesehatan yang lebih tangguh.
Selanjutnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga, dr. Jusi Febrianto, MPH., dalam keynote bertajuk "Dari Data menjadi Aksi: Penguatan Sistem Kesehatan Daerah melalui Inovasi Kesehatan Digital", menjelaskan bahwa transformasi digital harus mampu mengubah data kesehatan menjadi dasar pengambilan keputusan yang cepat, akurat, dan berbasis bukti. Menurutnya, pemanfaatan data secara optimal akan memperkuat perencanaan, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan daerah, serta menghasilkan kebijakan yang lebih efektif dan tepat sasaran.
Selama empat hari pelaksanaan, BSM InaHEA 2026 menghadirkan rangkaian kegiatan ilmiah yang meliputi pre-conference workshop, keynote session, plenary session, special session, dan oral presentation. Berbagai topik strategis dibahas, di antaranya transformasi pelayanan kesehatan primer, reformasi pembiayaan kesehatan, penguatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pemanfaatan data digital dalam sistem kesehatan, farmakoekonomi, Health Technology Assessment (HTA), pengembangan asuransi kesehatan, hingga penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam layanan kesehatan.
Penyelenggaraan Biennial Scientific Meeting InaHEA 2026 di Unsoed diharapkan mampu memperkuat jejaring kolaborasi antarperguruan tinggi, pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan organisasi profesi dalam menghasilkan inovasi serta rekomendasi kebijakan yang mendukung penguatan ekonomi kesehatan. Dengan demikian, transformasi sistem kesehatan Indonesia dapat diwujudkan melalui kebijakan yang berbasis bukti, berorientasi pada keberlanjutan, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.




