Publish: 26 Juli 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Ming, 26/7/26] Di area yang berada tidak jauh dari greenhouse melon hidroponik, Tim Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) bersama anggota Kelompok Pemuda Tani Agro Surya Perkasa duduk berdiskusi mengenai masa depan usaha kelompok.
Tim Pengabdian yang terdiri atas Riana Listanti, S.TP., M.Sc., Salma Salsabila Rabbani, S.TP., M.Sc., dan Dr. Setya Permana Sutisna, S.TP., M.Si. tidak hanya mengajak peserta membicarakan persoalan produksi, tetapi juga memetakan berbagai kekuatan, pengalaman, dan peluang yang telah dimiliki kelompok.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis IPTEKS tersebut dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman atau LPPM UNSOED di Desa Karang Talun Kidul, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan kelompok dalam mengelola produksi melon hidroponik secara lebih terencana dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdi menggunakan pendekatan Asset Based Community Development atau ABCD. Pendekatan ini menempatkan aset, pengalaman keberhasilan, dan potensi masyarakat sebagai titik awal pengembangan kelompok. Agar lebih mudah dipahami dan diterapkan, tahapan ABCD disesuaikan secara sederhana dengan kondisi Kelompok Pemuda Tani Agro Surya Perkasa.
Melalui pendekatan ini, anggota kelompok tidak hanya diajak melihat berbagai keterbatasan yang dihadapi dalam pengelolaan usaha. Mereka juga didorong untuk mengenali sumber daya yang telah tersedia dan dapat dikembangkan menjadi kekuatan bersama. Pada kesempatan yang sama, Tim Pengabdian LPPM Unsoed juga menyerahkan bantuan peralatan pertanian untuk mendukung kegiatan produksi kelompok.
Proses pendampingan dimulai dengan tahap define, yaitu menetapkan fokus pengembangan bersama. Dalam tahap ini, anggota kelompok berdiskusi untuk menentukan prioritas berdasarkan kondisi usaha, kebutuhan produksi, dan aspirasi para anggota. Tahap berikutnya adalah discovery, yaitu menemukan aset dan pengalaman keberhasilan yang telah dimiliki kelompok.
Ketua Tim Pengabdian, Riana Listanti, menjelaskan bahwa aset dalam pendekatan ABCD tidak hanya berupa peralatan, fasilitas, atau modal usaha.
“Para peserta mengidentifikasi berbagai aset yang dimiliki, meliputi aset sumber daya manusia, aset fisik dan produksi, aset sosial dan kelembagaan, aset ekonomi dan usaha, aset digital dan informasi, serta aset alam dan lingkungan,” jelasnya.
Melalui proses tersebut, anggota kelompok diajak mengenali berbagai modal yang dapat mendukung pengembangan usaha, mulai dari pengalaman budidaya, keterampilan anggota, fasilitas greenhouse, jaringan sosial, kelembagaan kelompok, hingga peluang pemasaran dan kemitraan.
Setelah aset berhasil dipetakan, peserta memasuki tahap dream. Pada tahap ini, anggota kelompok menyusun “pohon harapan” yang berisi kondisi dan capaian yang ingin diwujudkan pada masa mendatang.
“Para peserta menyusun harapan yang berkaitan dengan jumlah dan kualitas produksi, pendapatan, pemasaran, keterampilan, kemitraan, serta masa depan kelompok,” lanjut Riana.
Harapan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tahap design, yaitu penyusunan sistem kerja dan rencana pengembangan berdasarkan aset yang telah dimiliki. Tahap selanjutnya adalah destiny, yang menekankan komitmen anggota, pembagian peran, keberlanjutan program, serta evaluasi terhadap target yang telah disusun.
Melalui rangkaian tersebut, hasil diskusi tidak berhenti sebagai daftar harapan. Kelompok mulai merumuskan sasaran dan langkah kerja yang dapat dijalankan serta dievaluasi secara berkala sesuai kemampuan dan perkembangan usaha.
Ketua Kelompok Pemuda Tani Agro Surya Perkasa, Teguh Supriyanto, mengatakan bahwa kegiatan pendampingan turut menjaga dinamika kelompok agar tetap aktif dan memiliki target-target pengembangan baru.
“Kami sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan ini dan siap bekerja sama lebih lanjut,” ungkap Teguh. Ia menambahkan bahwa kelompoknya terbuka apabila terdapat dosen maupun mahasiswa yang ingin melaksanakan penelitian berkaitan dengan budidaya dan pengelolaan melon hidroponik. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dapat membantu kelompok memperluas pengetahuan sekaligus memperbaiki pengelolaan usaha.
“Kami berharap kerja sama akan terus berlanjut sehingga pengetahuan dan pemahaman mengenai melon hidroponik dalam greenhouse semakin meningkat, baik pada aspek produksi, pencatatan, maupun pemasaran,” jelasnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari berbagai program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan melalui LPPM Universitas Jenderal Soedirman. Pendampingan berbasis aset lokal tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas kelompok dalam mengembangkan usaha melon hidroponik secara mandiri, terukur, dan berkelanjutan.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak




